Aku masih di sana dengan ‘sahabatku’ di genggamanku. Buku sketsa itu selalu menemaniku setia saat, saat sepi, saat sedih, saat aku bingung. Satu2nya suasana aku tak bersamanya adalah saat aku merasa senang, maksudku senang dalam arti sebenarnya. Sudah lama sepertinya aku tidak tersenyum dari dalam hatiku. Senyum yang otomatis ada saat aku merasa senang dan gembira. Semakin bertambah dewasa ,kurasa senyum itu semakin menjauh dari genggamanku, tak peduli seberapa jauh aku memanjangkan tangan. Senyum itu selalu saja tak terjangkau.Sekarang aku merasa bhwa aku adalah badut no. 1 di dunia ini. Senyum palsu ini sudah kuuasai sepenuhnya mungkin hanya hati kecilku dan buku ini yang tau perasaanku. Tapi aku juga tidak terlalu yakin… kdanag aku sendiri tak tau aa yang kuinginkan. Yang jelas aku tidak ingin terluka. Mungkin aku pengecut, munkin aku munafik. Tapi jika untuk bertahan di ‘permainan’ ini itu perlu.Aku tak keberatan untuk jadi pengecut dan munafik. Sambil berlalu aku membuka sahabatku.. apa yang selama ini kutulis di dalamnya.. lembar demi lembar kubuka buku ini seperti saksi bisu dari perjalan hiduku. Lebih tepatnya sebuah jurnal tentang aku, dan mereka. Aku selalu meandang dunia sebagai 2 dunia. Duniaku dan dunia mereka. Benteng itu selalu kubuat untuk menutup orang memasukinya.Earphone di telinga adalah peredam. Dan poker face adalah cara untuk memastikan semua berjalan dengan semestinya.
Lembar demi lembar kubuka, buku berisi gambar, puisi dan beberapa lagu, sebuah dongeng sedih tentang seseorang yang kespeian. Berharap adanya seseorang di dunianya. Namun takut seseorang memasuki dunianya. Mataku tiba2 tertarik oleh sebuah gambar.. anak kecil di dalam selimut dalam ruang gelap yang hanya diterangi sebuah lilin. di kiri atasnya ada beberapa aragraf kalimat
In the darkness of the night I am scared,
But I’m not alone
I’ll believe you will come
Hug me
And say
You’re not alone.
Di halaman sebelahnya si anak tadi sudah ditemani seseorang. Wajahnya sudah berubah ceria walau dia masih di kegelapan dan cahaya lilin tadi hamper mati.
Surely
After the storms they will be a rainbow
Pretty rainbow
seven color to fill your world
just believe they will come
and u will smile
Athought
it more dark than before
because u’re not alone
Entah mengapa, aku menitikan air mata. Kata yang sederhana ini… kenapa mampu membuatku menitikan air mata ??? mungkin aku keseian. Di tengah suasana tidk mengenakan itu aku dikagetkan oleh teukan keras dipundakku.
“jun???”
“ raka??”
Ternyata dia raka , tanpa kusadari dia sudah ada di belakangku. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya.Raka mebawa gitar di punggungnya. Dengan mudah dia duduk disampingku. Sepertinya dia sudah terbiasa naik pohon.
“jun , lagi ngapian di sini???”
“ah, gak Cuma liat emandangan aja”
“ lu nanggis??? Mata lu merah”
“ gak kok, cuma ngantuk ja”
“ he??? Kok bisa??”
“pemandangan yang bagus dn angin ini ngebuat gua ngantuk, hahahhahaha”
, lu
“yeah,emandang di sini emang yang erbaik yang pernah gw temuin, gw paling suka disini”
“ lu sering ke sini???”
“ iya, kenapa gitu???”
“ lu tau ga tentang ce yang suka nulis surat??”
“surat???, surat apa??”
“ lupain aja dah, btw tuk apa lu bawa gitar???”
“ oh ini??? Gw sering kesini Cuma tuk gitar liat pemandanga, hahahahhaha”
“pemandangan di sini mang bagus ya”
“ lu belun liat matahari terbenam dari sini kan??? Mumpung udah sore, mending lu liat deh.jun lu mau denger lagu ciptaan gw???”
“ boleh”
Setelah itu raka “menyanyikan” gitarnya sambil bernyanyi.
Its not perfect world, but its beautifull.
Hey, baby
Lets sing a song
A song about our world
The sky is so blue and so dark at the same time
When its blue
u will fell like want go round2 around the world
Although we don’t have wing, it doesn’t matter
Because it was our sky
When its dark
Let just wait and see the beautiful picture in the sky
Although we don’t have anything, it doesn’t matter
Because it was our sky
Our sky
Our world of freedom
Don’t fight for it
It was ours
It was not perfect, but its beautiful
It was not perfect, so its so perfect
It was not perfect, but its beautiful
It was not perfect, so its so perfect
Our blue sky
Lets reach the sky of hope with our hand.
Lets face the sky of hoe with smile.
Lets fly to the sky of hope with our wing
Lets, hope , smile and spread our wing
To our sky
It was not perfect, but its beautiful
It was not perfect, so its so perfect
It was not perfect, but its beautiful
It was not perfect, so its so perfect
Our blue sky
It was not perfect, but its beautiful
Our blue sky
Raka menyanyikannya dengan senyum di wak\jahnya. Dia sangat bebas menyanyikannya. Raka si bad boy telah hilang, berganti denga seorang rmaja yang bernyanyi dan bermain gitar dengan hatinya. Bukan sekedar skill, adayang lebih dari itu di permainan gitarnya. Seolah ada nyawa di dalam permainan gitarnya. Raka menyanyikan lagu tersebut dengan senyum di wajahnya sambil menatap tajam ke arah langit. Akhirnya raka berhenti.
“gimana jun???”
“ bagus ko ka” ucapku dengan sungguh 2
“haa, jadi malu dipuji oleh anak seorang pianis jenius, hahahhaha”
“tapi memang bagus kok, ka”
“syukurlah, hanya gitar ini dan adikku yang kupunya di dunia ini”
“ dan tantu saja kebebasan” serunya menambahakan
“ adik??, kau punya adik???”
“ah, sudahlah jangan membicarakan itu”
Raka nampaknya berusaha menghindari topik itu
“ kau sudah lama belajar gitar???” ujarku buru buru
“ hmmm semenjak kelas 2 smp, sie”
“berarti baru 3 tahun???”
“yupz”
“ dalam hanya 3 tahun ini kau sudah sehebat ini???”
“ hahahhaha, percaya atau tidak, aku sudah jarang berkelahi semenjak bermain gitar. Aku hanya menggunakan tanganku untuk melindungi hal yang penting dan juga bermain gitar. Seseorang pernha berkata padaku bahwa tangan seorang gitaris dipakai untuk memetik gitar, bukan untuk berkelahi.. sejak itu aku jarang berkelahilagi…”
Raka menceritakan itu dengan mata berkaca2 namun tetap semangat
“Jun, coba lihat mtahari mulai terbenam”
Kami melihat mathari terbenam dengan perlahan, perlahan langit biru tadi kin sudah berubah jadi berwarna oranya dan perlahan warna hitam mulai menyelubungi langit,Menggantikan warna oranye, perlahan dan sangat perlahan. Secara perlahan lahan jug sang bintang mulai bermunculan menghiasi gelapnya malam itu. Namun tidak semurna, karena hanya ada sedikit bintang hari itu.
“Jun, kau pasti berpikir jika saja bintang lebih banyak jumlanhnya sekarang,mungkin ini akan lebih sempurna.”
“iya,emang salah??”
“gak salah , tapi menurutku ketdidak sempurnaan yang mambuat semuanya indah”
Kami diam disana hingga sang matahri benar 2 hilang, dan bintang lumyan banyak.bermunculan dengan indahnya. Aku sekarang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘keindahan dibalik ketidak sempurnaan’. Tapi nanti aku akan mengerti. Bahwa, semua hal terasa indah karena tidak sempurna. Begitu pula juga dengan kehidupanku , memang tidak sempurna, namun pada akhirnya aku akan menyadari bahwa hidupku sangat indah. Semua akan indah pada waktunya. Yang harus kulakukan hanya berusaha dan berharap.
Namun yang tidak kusadari ialah, tadi adalah cahaya pertama yang memasuki duniaku, dan sang waktu akan cepat berputar tanpa kusadari sampai akhirnya tembok itu runtuh. Tinggal beberapa hari sebelum pertunjukan musik kami..
Tak ada yang berubah hari ini masih seperti hari kemarin, walau beberapa hari lagi adalah hari pertunjukan hanya suasana saja yang berubah. Aku masih merasakan sepi yang sama, hal yang sama berulang ulang kali sampai aku muak.Hari ini kami janjian unuk bersama2 pergi ke rumah Ryo sepulang sekolah untuk berlatih.Namun sejujurnya kami sama sekali belu membicarakan akan membawakan lagu apa. Kami baru akan mencoba mengaransemen lagu “STARRY NIGHT” yang kubuat bersama nino kemaren. Aku sudah memikirkan beberapa nada yang mungkin akan pas di sini. Aku akan menanmbahkan nada yang simpel tapi menyenanngkan, aku ingin lagu ini penuh pengharapan. Tak lama bel plang berbunyi ,kami berlima lalu memutuskan bertemu di rumah ryo jam 3 sore karena ares dan raka ada sedikit urusan, aku , dan nino memutuskan ke rumah ryo duluan karena berniat mencoba mengaransemen lagu duluan bersama ryo.